Friday, September 7, 2012
Suatu Malam di Bawah Langit Tanpa Bintang
Friday, August 24, 2012
telephone
![]() |
| my phone, when you leava me here, the snow and the tears falls. lol |
Seharusnya, judul asli dari postingan ini adalah handphone. Tapi kok rasanya aku nggak tega buat menuliskan kata handphone, aku masih membaui aroma menyedihkan saat aku menuliskan kata 'handphone'. Karena itu, akhirnya kuperhalus dengan telepon.
Akhir januari tahun ini bisa jadi akan aku ingat di sepanjang waktu yang kuluangkan untuk melamunkan hal-hal tidak penting, contohnya seperti mengingat kejadian naas saat aku kehilangan handphone-ku tersayang. Haha, tolong jangan protes dulu karena nada tulisan yang akan aku buat ini agak mengalami dramatisasi demi tercapainya kesan menarik. -_-
Handphone-ku yang kubeli dengan susah payah, dengan keringat seorang mahasiswi luntang-luntung sepertiku, prestasi besar aku memilikinya. Sayang, hanya empat bulan ia berjasa menyertai kehidupanku yang tidak datar. Terlebih, ia pergi saat aku bawa tugas negara: penelitian Tugas Akhirku.
Keraton Kanoman, salah satu keraton bersejarah di Kota Cirebon, hari itu sangat terik memayungi kepalaku. Aku memang asli Cirebon, tapi percaya nggak, itu kali pertamanya aku masuk keraton yang didirikan kedua, setelah Keraton Kasepuhan tersebut. Bukan hal yang bagus memang.
Alasanku ke sana, siang itu pun cukup penting, yaitu kepentingan penelitian Tugas Akhir-ku yang mengangkat tema wisata budaya Cirebon. Ok, belum sempat aku hunting ilmu dengan lahap, terjadilah peristiwa aku kehilangan benda pintar itu. Kejadiannya sangat lambat sampai-sampai aku nggak berhasil mengingatnya. Loh.
Yak, handphone-ku jatuh tanpa aku sadari, saat aku berusaha napak tilas dan menganalisa, siapa tahu, handphone-ku kembali, takdir berkata ia nggak akan kembali. Dengan menyesal dan hati yang dilapang-lapangkan, tanpa melanjutkan penelitian pentingku, aku pulang dengan suasana hati yang kurang bagus.
| telephone |
Sejak itu, aku nggak pernah benar-benar merasa punya handphone. Hidupku lumayan berubah drastis, karena seluruh kontak dan memory hilang. Relasi dan teman-teman hilang, woro-woro di media sosial nggak begitu banyak membantu. Ganti handphone sudah pasti, tapi lima kali gonta-ganti karena beberapa secara misterius rusak, dan sisanya eror. Sebelas duabelas ya. Sampai sekarang, sepertinya aku belum menemukan lagi jodoh handphone-ku...
Karpet!!
Wednesday, August 22, 2012
happy Idul Fitri
Monday, August 6, 2012
TIGA
![]() |
| 3 senyum yang tercipta untuk jadi kenangan |
Namun kali ini aku harus mengaku salah dengan susah payah, karena tiga tak selamanya kuning!
dan kuning nggak selamanya ceria,, kami buktinya!
Persahabatan kami bertiga nggak lagi sekuning warna ceria. Aku bahkan bisa aja melupakan semuaya, kalo nggak ingat akan deretan episode selama 4 tahun di bawah atap yang sama,, nggak!
Coba, pikirkan baik-baik, seandainya ada orang iseng atau mereka yang punya waktu luang untuk menuliskan tiap tawa dan bahkan tangis kami selama ini, dalam sebuah buku, aku cemas bakal setebal apa buku itu nanti.
Karena itu, di momen ramadhan ini, detik-detik berharga menjelang hari fitri, smoga aku bisa melihat mereka lagi tersenyum dalam bahasa yang sama,,
Aku kangen mereka. titik.
Thursday, September 15, 2011
Tuesday, August 2, 2011
Sunday, July 31, 2011
TARAWIH PERTAMA DI SAMPING KERANDA

Walaupun judulnya agak berbau horor, semoga isi note dan penulisnya gak horor-horor amat ya.
Saat gue menulis note ini, mungkin sebagian orang lain masih khusyuk dengan tarawih perdana mereka, tapi gue udah nongkrong di depan laptop kejayaan, Mita. Padahal beberapa menit lalu gue juga terlihat batang hidungnya di dalam mesjid belakang asrama. Teraweh perdana dengan sukacita. Kok bisa?
Yang namanya perdana, alias tarawih hari pertama, bisa ketebak mesjid-mesjid jadi mendadak full alias ramai bukan kepalang. Dan, itu yang gue lupa. Karena gue datang lumayan telat, pas nyampe mesjid yang cuma berjarak sejengkal-duajengkal dari asrama itu, udah sesak abis.
Jalanan depan masjid yang biasanya lengang, kini penuh jamaah yang antusias dengan solat tarawih. Subhanallah. Lalu gue dan Ayu (teman 1 perjuangan kali ini), langsung menuju loteng masjid tempat jamaah wanita.
Jiah, boro-boro ke loteng.
Bahkan di tangga pun udah penuh jamaah wanita. Mesjid malam ini laku keras, kebanjiran penggemarnya.
Alhamdulillah banget masih tersisa sepetak ubin buat kita solat berdua. Tergelarlah sajadah kita, dengan pemandangan gunungan sandal berserakan di depan mata. Namanya juga solat di tangga
-______-
Capcussss..solat isya dimulai. Khusyuk gak khusyuk harus khusyuk.
Wuzz.. pas solat tarawih kedua dimulai, tiba-tiba perut gue sakit.
Maaf kalo kurang etis kalo gue bilang, ternyata gue dapet!!!
d@mn!
Astaghfirullah, gagal tarawih perdana gue kali ini. Baiklah..
Gontai, gue kemas-kemas buat pulang, jauh lebih awal dari semua orang di mesjid ini. Hueew (Y_Y)'
Di bawah tangga tempat kita solat, adalah tempat bersemayamnya sebuah KERANDA cantik milik RT kita. Itu salah satu alasan kenapa beberapa dari kita ogah lewat di depan mesjid, kalo hari udah gelap. Ada kendaraan masa depan, Bo..
-__-
Untung settingnya lagi banyak orang, jadilah gue pemberani saat itu. Karena buru-buru, tadi kayaknya gue nyimpen sendal di depan keranda. Hmm..
JGREEGGGG!!!!!!!
Petir di dalam jantung gue langsung menggelegar, kaget banget gue!
Lihat pemandangan di depan mata gue. Hoaaaaaaaaaaaaa
Keranda itu diapit 2 anak tangga menuju loteng mesjid, tempat itu sungguh gelap, dan mengundang rasa takut. Tanpa diperlu ditambah-tambahi pun sudah sangat menyeramkan versi gue. Apalagi sekarang....
Di samping keranda cantik itu, yang sempit, gelap, dan berserakan banyak sandal itu, terlihat sesosok nenek-nenek sedang khusyuk solat. Jadi berpikir macam-macam banget gak sih? @_@
Sedetik kemudian akal sehat udah menguasai gue lagi. Kasihan, mungkin beliau saking gak kebagian tempat buat solat tarawih perdananya, beliau sampai rela solat di samping keranda. Sumpah gak boong itu serem banget.
Sebelum sosok nenek itu tiba-tiba ilang kayak di film-film, lalu gue percepat langkah gue buat pulang.
Hehe,,maaf ya nek :)
CARA MEMILIH JODOH YANG TEPAT!

Kalau kamu tertarik baca note ini gara-gara judulnya yang bombastis, kamu salah.
Atau kamu berminat baca note ini karena penulisnya yang fantastis, kamu juga salah. *jiyahh
Karena, sodara2, note ini tidak yg seperti kamu bayangkan.
Note ini bukan berisi tentang tips atau trik gimana memilih jodoh yg tepat. Tapi...
ini sebuah kisah nyata, yang rasanya nano-nano. Langsung aja kita ke Te,,Ka,,Pe!
Sore itu seperti biasa gue di tempat magang, di sebuah penerbitan ternama.
Karena kita lagi ada event workshop di toko buku Gramedia, gue jadi salah satu kru juga dsana, di mana tim penerbit tempat gue magang yg mengadakan event nya kerja bareng Gramedia. Pasti kenal mba Asma Nadia?
Penulis berbakat yg produktif itu.. Nah, gue magang di tempat beliau. Hehe
Workshop kilat tentang tips parenting gimana menumbuh-kembangkan minat baca dan menulis anak tersebut, dibanjiri antusias peserta. Dari anak-anak sampai ibu-bapaknya anak-anak. Bahkan yang muda belia juga gak kalah. Seru!
Beberapa peserta malah sebagian gak dapat kursi, apalagi aku yang berjudul sebagai "kru". Berdiri adalah posisi paling layak, bagi seorang gue di sana. Ya iyalah, gak mungkin kan kalo gue nungging, telungkup, atau jongkok selama workshop. -________________-
Berhubung tempatnya di toko buku, gak aneh kalo sepanjang mata melihat, melirik, dan melotot adalah buku-buku aneka rupa. Gue, sebagai manusia tak luput juga dari rasa kemanusiawian gue: Tertarik buat baca komik karya Benny Rachmadi (komikus Benny and Mice) yang judulnya 100 Peristiwa yang Bisa Menimpa Anda .
1-2 lembar gue lahap, ternyata seru juga. Akhirnya gue cari tempat aman buat curi-curi duduk: Di balik rak agak membelakangi tempat workshop. Gak terlalu jauh memang.
Cekakak-cekikik gue baca nih komik. Asli gokil dan seru abis. Lagi konsen-konsennya baca, tanpa ba-bi-bu lagi,
"PLUKKK!!!"
Sebuah buku pink jatuh tepat di depan tempat gue bersila indah. Huw, ganggu aja nih buku, malas berdiri buat menaruh buku ke tempat asal, kutaroh buku jatoh itu di samping.
Tek tok tek tok... kembali baca dengan serunya. Dan,
"PLUKK!!!"
Buku kedua jatoh, hampir mengenai muka penulis. Gue pungut dan ternyata masih buku sejenis. Gue baca judul bukunya kali ini, kurang lebih gini.. Cara Memilih Jodoh yang Tepat. Azzzzzzzzzzzzzzz =__=
Seperti sebelumnya, malas berdiri, akhirnya buku kedua pun menemani buku pertama, teronggok manis di samping gue duduk. Lanjutttt..... komiknya lagi seru banget!
"PLUKKK!" ternyata masih ada 'plukk' berikutnya (>.<)'
Buku berjudul sama jatuh ketiga kalinya!!!!!!! Subhanallah ujian apa lagi yg Engkau berikan kali ini. Hehehe lebai. Tanpa menutup komik Benny, dengan ogah yang lebih besar dari pertama dan kedua, gue pungut buku ketiga. Tetap tanpa berdiri. Hahaha..
Jangan-jangan, jangan jangan. Gue mulai iseng berprasangka, apalagi melirik judulnya yang menarik. Haha akhirnya skip, dan fokus ke komik. Tanggung banget, udah hampir khatam. Ahayyy ƪ(˘̩̩̩⌣˘̩)ʃ
~~~~~~~~~~ \(►_◄)/ Ternyata belum game over \(►_◄)/ ~~~~~~~~~~
"PLAKK PLUKKK PLUKK GEDEBUKKKKKK!!!!!!!! prokk prokk prokkkkookkkk!!!" Jiyah, dengan iringan suara tepuk tangan peserta workshop, keempat kalinya buku jatoh ini gak satu, tapi sekaligus, sampai-sampai di rak tempat buku bercover pink itu berbaris, hanya tersisa 2 ekor buku pink. Hadeh hadohhhhh... untuk kali ini gue panic at the bookstore..
dorrrr ̿’ ̿’̵͇̿̿з=(•̪●)=ε/̵͇̿̿/’̿’̿ ̿
Bangkit berdiri, lalu jongkok lagi, gue pungut satu2 buku-buku "jodoh" itu dengan asal-asalan. Tanpa diduga, kayak di sinetron-sinetron, seketika itu juga datang seorang pangeran negeri impian, turut berjongkok dan ikut repot memunguti serakan buku-buku itu. 1 detik, kami saling berpandangan. Hoek..
*Ini hanyalah imajinasi penulis, karena yang datang bukan seorang pangeran negeri impian, melainkan mas-mas SPG Gramedia. HAHAHA
Kalo di sinetron, pasti adegan itu jadi slow motion. Ckckck..berhubung aktrisnya gue, gue percepat, karena belum apa-apa pikiran gue udah menyangkutpautkan buku-buku "Jodoh" yang jatoh keempat kalinya itu dengan berbarengannya kedatangan pangeran negeri impian yang menolong gue. Minimal, buat sama-sama memungut buku. Haiaaa..
"Rak nya terlalu penuh kali, Mas!" Gue. Berusaha berkata datar. Yeah.
"Oh iya maaf maaf" kata Mas-mas SPG nya dengan tangan penuh buku. Bukannya bantuin naroh buku-buku ke rak, gue ngeloyor pergi ke tempat workshop yang jaraknya sekitar 10 langkah kaki manusia biasa.
Benar-benar deh tuh “Cara Memilih Jodoh yang Tepat”.
Kalo kata Sketsa-nya TransTV, “Tapi gak gini juga kaliiiiiiiiii...”
Hiahahahahhahahasemm (⌣́.⌣̀)''
Rahma ramcil,
7:26 am
Mampang
Wednesday, June 22, 2011
CORET-CORET

Gue emang dari kecil udah hobi coret-coret. coret-coret di tembok, majalah, buku pelajaran kakak, meja, koran, di tanah, pasir, bahkan di udara! Yah,, walaupun coret-coret nya gak bisa dibilang bagus, yahh minimal, gue hobi lah ya.
Apapun itu. Apalagi coret-coret wajah manusia, terutama cewek, gue hobi banget :D
Maka muncul berbagai reaksi dari orang-orang terdekat.
Pas gue coret-coret dengan sebongkah kerikil di halaman tetangga, tetangga gue komen, 'Wah,, Rahma besok mau jadi pelukis ya?" Lalu gue iyakan.
Pas gue muncul dengan banyak coretan di tembok kamar, Mimi gue komen dan panik, dengan bahasa Cirebon "Aaa.. tembok maning-maning dicoret-coret.. Pen dadi apa engkoe?"
terjemahan bebas: "Lagi-lagi coret-coret di tembok, Besok, kamu mau jadi apa?" Tetangga gue bilang, gue bisa jadi pelukis, tapi gue jadi mikir besok mau jadi apa.
Terus, pas gue coret-coret di buku pelajaran punya kakak, gue gak sempat mikir, malah nangis tertahan. Masalahnya, kakak gue memang gak komen apapun, tapi tangannya lebih dulu bicara alias nyubit gue. Karena sakit, otomatis gue nangis. Jaman kecil, hukum rimba lah yang berlaku. Yang kuat, yang menang. Y_Y
Lalu gue gak bosan corat-coret di udara kosong. Bagi gue, udara adalah lahan paling 'aman' tempat gue coret-coret. Karena hanya gue yang bisa melihat mahakarya gue. Hahaha.. tunggu, ternyata gue agak salah, karena pas di kelas gue mulai beraksi, beberapa teman gak mau kalah buat komen,
"Ih Rahma stress ya, lagi ngapain tuh tangan gerak-gerak ke atas gak jelas?"
Wew.. @_@
Gue gak habis ide. Coret-coret bisa dimanapun, kapanpun. Gue emang keterlaluan jarang beli kertas atau buku gambar buat hobi gue ini. Gue memilih media yang emang bisa mancing feel gue pas coret-coret. Syaratnya, media yang emang gak disengaja. Jadilah buku-buku sekolah gue menjadi korban berikutnya.
Jarang buku-buku gue bersih dan steril. Pasti ada coretan atau goresan. Bukan satu-dua halaman, tapi nyaris seluruh lembar. Aman kan, gak ada yang protes.
Dasarnya hidup, ternyata jalan gue gak mulus.
Suatu hari, gue dipanggil guru kelas gue. Gue dengan terpaksa mengaku kalo di jaman itu, gue adalah murid paling pinter di kelas, jadi wajar dong kalo gue GR, 'jangan-jangan guru gue mau ngasih gue hadiah atau apalah' Haha
Ternyata gue benar. Hadiah.. -____-
"Buku paket sekolah nyaris gak berbentuk, isinya gambar kamu semua! Ckck.. gimana kamu ini, itu kan milik sekolah, yang nanti akan diwariskan ke adik-adik kelas kamu. Owalah, habis kena gambar kamu, gak bisa dipake lagi nanti."
Gue meringis, semanis mungkin.
"Hobi gambar kamu salurkan pada tempatnya, yaudah bapak tunjuk kamu buat wakilin sekolah di lomba melukis di kota nanti. Ckck.. "
Gue melongo. Waktu itu gue kelas 4 sekolah dasar.
--------------------------------------@_@----------------------------------------------
^Buat yang punya adik hobi coret-coret di sembarang tempat seperti cerita di atas, jangan ragu buat mengarahkan!
Coret-coret itu gak buruk kok, dan gak aneh. Huehehe
Buat anak kecil, coret-coret itu bisa memancing mood 'perkalian', 'pembagian', 'hafalan', de el el.
Gue pernah!
~yuk, jalan di atas Karpet Ungu~
22:33 wib, mampang 4
Saturday, June 18, 2011
Indonesia Mengejar: BUGURRUUU!!

Dulu, gue selalu gak habis pikir kalo ada teman yang punya cita-cita jadi guru. Bukan apa2.. soalnya gue liat langsung guru-guru gue kayaknya kok kasihan gitu, tiap hari kecuali minggu harus ngahadapin puluhan anak orang.. Mending semua pinter dan penurut, rata2 badung lagi. Apalagi jaman SD.. ada acara nangis2 juga kan anak2. Haha gue pikir ribet ah jadi guru.
Makanya, masa SD gue bercita2 jadi pelukis aja ah, yang hobi gue emang suka nglukis. Yah, kalo gak, gue pengen jadi sastrawan karena hobi baca gue. wuuu..
Kalender berganti, tahun pun berubah. Sekarang, gue jadi mengerti kenapa dulu sebagian besar teman gue bercita-cita jadi guru atau pendidik. Ah,, asyik juga ya jadi guru. Ahaii
Minimal, sekelas gue, jadi guru bimbel (bimbingan belajar). Acihiy!
Awalnya iseng daftar jadi guru bimbel, daripada gue kelamaan autis di dunia virtual (waktu itu gue lagi keranjingan game online), hm,,sejujurnya sih dipaksa kakak buat daftar haha.. eh gak kepalang agak kaget juga gue lolos. asyiikk.. kehidupan baru dimulai! Hayuk lah, gue mah siap2 aja :)
Bimbel tempat gue ngajar lumayan kondusif, selain akhlak jadi prioritas,, kenyamanan belajar jg prioriti buat prestasi. Makanya gak heran klo kelas cuma buka buat 1-5 anak aja.
Berhubung gue masuk pas akhir taun ajaran baru, maka jadwal gue blm banyak. Akhirnya gue punya anak didik juga.
Seoarang anak kelas 2 sd, laki-laki, teramat imut dan cadel, dan yang paling ekstra adalah dia anak yang sangat aktif.
Bayangkan, gue emang hanya pegang 1 anak di kelas gue, tapi anak yg satu ini hobinya unik2.
Mulai dari hobi pakai sepatu roda di kelas gue (hingga gue mesti ikut lari2 di kelas gue yg gak luas itu), hobi bikin tebakan, hobi bikin kuis, hobi nyanyi, dan apalah. Yang ujung2 nya, kelas gue yang seharusnya berjudul kelas "matematika" ini, malah berakhir dengan banyak coretan spidol di tangan gue, dan semua goresan gambar yg gue bikin di papan tulis, buat mancing dia. Jujur, gue sebagai guru juga lumayan aneh. Haha.. nih kelas jadi kayak kelas menggambar. Ckck
Hari ini gue datang agak terlambat, padahal gue udah maraton dari rumah sampe halte depan Hero. Dan itu gak mudah, melewati jalanan berasap dan menyebrangi jembatan. Fiuh,,berujung sekotak bus 57 yang sudi mengangkut gue ke kantor. Alhasil usaha gue lumayan sia-sia, karena pas gue tiba, anak didik gue lag ditangani sama guru pengganti lantaran gue telat Y__Y
Takjub, kaget sekaligus miris melihat pemandangan luar biasa di kelas gue: anak didik gue si super aktif hobi main tebak-tebakan ini duduk manis!! Ajaibnya lagi, (pura-pura) ngerjain soal. Hahaha.. takut dia sama guru pengganti. Gue tulis pura-pura, karena begitu gue masuk kelas, dan guru pengganti itu ngeloyor pergi, sesuai tebakan gue. Anak imut 7 tahun itu langsung bangkit dari kursi dan berbebas kesana-kemari. Hahhaha kocak
"Sihiyy,, " gue berdecak aja melihat tingkah dia. Belum gue mulai ke materi.
Akhirnya seperti biasa, soal matematika yang kita mainkan, diselingi gambar2 aneka rupa di papan tulis. Bahkan dia masih ingat gambar yang gue buat minggu lalu, buat memancing mood 'perkalian'nya, yaitu gambar rumah bentuk burung dengan mata "X" menyerupai perkalian. Gue harap, perkalian gak menakutkan lagi buat dia. Hahha
Soalnya, pengakuan dia, matematika adalah pelajaran yang paling dibenci, dia lebih suka olahraga dan KTK (keterampilan) wew..pantes lah :D
"Bugurrrru sebenernya masih SMP apa udah kuliah sih?"
Wew, tiba-tiba aja dia nanya seperti itu. Gue ketawa, masak gue dikira anak SMP? Zzzzz...gue rada oon apa gue yang keliatan imut nih -_____-
"Kenapa emang?" Gue balas tanya
"Kok kayak masih kecil" jawabnya polos.
Rrrrrrrrrrr..... "makanya jangan panggil aku Bugurrruu!" -____-
"Ah..kan kakak gurrru, jadi bugurruuu donk"
-..-
Cerita juga ah, ada guru lain yang menyapa gue dan bertanya (secara gue kan guru baru, jadi ya muka baru bagi mereka hehe)
Guru lain: "Mbak ngajar atau diajar?"
Gue: "hahh?? oh ngajar, mbak" Senyum huruf 'D' gue pasang :D
Guru lain: "Eh kirain siswa. Hehe kayak anak SMA"
Kali ini gue pasang senyum 'P' ... wew :P
ahayy :D
sekian dulu ah "indonesia Mengejar" sesi 1
1:41 am ,kamar gue, asrama gue.
Karpet Ungu!
Sikat Gigi Manusia??!!
Saturday, June 11, 2011
Liana yang Lain (-___-)'

Liana hampir mirip-mirip dengan karakter gue. Bukan karena dia punya mata yang juga minus, atau karena dia sering tidur dalam bus kota. Bukan, hobi kami yang sama-sama maniak main game tertentu, yg membuat kami sama-sama sama. ahahha.
Yah, Liana emang terlalu istimewa sebenarnya jika dibandingkan dengan gue yang 'seadanya'. azzzz..
Dia bukan cuma cantik dan punya senyum manis, dia juga punya aura pink yang khas buat cewek-cewek sejenis dia. Cantik, menarik, dan bikin penasaran. Ahahha..sesuatu yang gak gue punya -______-'
Ok lah, tapi bukan itu inti cerita yang pengin gue bagi buat para pembaca gue yang juga sangat menarik:)
Ini tentang satu episode Liana dengan teman virtualnya. Dan ini, kebetulan bukan gue. Hahaha
Liana masih semester 4 di salah satu perguruan tinggi swasta di kota besar. Kami gak sengaja bertemu lalu bersahabat di salah satu game yang sama-sama kita mainkan, hampir setiap malam. Yah, walaupun kami terpisah puluhan bahkan ratusan kilometer oleh jarak, tapi secara dimensi lain, kami sangat dekat hehehe.
Hampir 2 bulan kami dekat dan saling membantu dalam game apapun, dalam dunia virtula manapun. Yah, kami teman virtual yang asyik. Lalu satu hari, waktu itu gue inget malam sabtu yang suram. Dia gak ada di layar laptop gue. yahh, bukan kali pertama sih dia gak ada. Tapi yang bikin gue kaget adalah message nya di inbox facebook gue!
OMO!!
"Mungkin ini pesan terakhir gue cil, gue gak akan ada lagi di dunia virtual"
Curang banget, dia gak kasih gue penjelasan apapun kenapa dia harus tiba-tiba pergi. Padahal kemarin kita baru saja asyik bercerita dan main game bareng, seperti biasa. Kenapa? Ada salah apa gue ama Liana?
Wuaaa.. kalo aja ini sinetron, tentu gue masih bisa tahu ending dan alur cerita lainnya. Wew..
Ternyata, ini pun sinetron. Karena kira-kira 12menit dia pergi, gue tahu jawabannya.
: Liana
Cuma mimpi buruk gue yang menjadi kenyataan pas gue bangun.
Liana yang lain -______-'
Sunday, June 5, 2011
Lovely Brothers
Di sini, aku enak-enakan bisa main game sesuka hati, makan kenyang, hidup santai,, tidur cukup,, kuliah semena2, kerja dengan tenang,,
Sementara di sana, kedua adikku hidup berjuang jauh lebih keras,, sampai2 tetesan keringatnya terkadang meresapi mimpi tidurku.
Kedua adikku yg hidup merantau jauh dari sanak saudara, begitu belia namun terlihat jauh lebih dewasa dibanding usianya.
Adikku, smester 4 di ITB, sangat soleh dan menjadi teladan keluarga, hidup mandiri sejak SMA, banting tulang di kota kembang, demi setitik ilmu yg ia perjuangkan. Daftar prestasinya membuat mataku basah.

Adam pas menjelajah Singapore
Kakinya telah menjejakkan di tanah Ambon, Makassar, Lampung, Padang, bahkan ke Negeri Jiran dan Singapore, di usia sebelia itu dan dengan jerihpayahnya sendiri. Subhanallah.
Ceria aku di hadapan semua orang, walopun kadang airmata malu2 meluncur di pipiku. Mengingat semua nikmat yg teramat indah: me
miliki adik segagah itu.
Yang bahkan dalam igau tidurnya adalah lafadz Allah yang ia alunkan. Yang begitu menjaga
dirinya, yah,, jangankan nembak cewek, kayak anak2 seusianya. Ia bahkan gak prnh brusaha dekat dgn cwek. Rasa cinta dan takut pada Rabbnya begitu besar. Dengan payah, kuakui aku malu pada diri sendiri.
Dalam banyak hal, ia salah satu sumber kekuatan dan inspirasiku. Adik yang mungkin lebih pantas kusebut kakak. hehe..

mimpi Fawaz di tahun 2015
Adikku yang terakhir, juga tak luput membuat dadaku kembang kempis bangga. Meluap dan sangat penuh rasa banggaku. Ia kini yang tengah berjuang mendapatkan kursi perguruan tingginya. Permudah langkahnya ya Rabb.
Masa-masa SMA nya penuh warna dan ia torehkan dengan sangat indah. Sempet menjabat menjadi ketua OSIS di tahun keduanya di SMA-salah satu terbaik- di Jawa Barat.
2 hari lagi adalah tepat usianya yang ke-19. Mulutku menganga, kaget, sadar bahwa adik kecilku sudah sebesar itu. Pantas.. dia juga begitu bersemangat mencapai mimpi.
Ia adalah cahaya keluarga, keceriaan keluarga dengan segala cerita dan kelucuannya. Dia punya mimpi besar, yang gak bisa kusebutkan di sini. Adik yang tutur katanya lebih bijak dibanding kakaknya ini. Yang selalu punya celah untuk bisa tertawa, dan bahagia, di segala kesempatan.
Kedua adikku ini saling belajar dalam kesolehan. Nah aku,,hm..
*Maap tama belum bisa, berbuat apapun Y_Y
semangat berjuang Adam Habibie dan Fawaz Syaefullah,,












