Saat
itu hari hujan rintik, menyapa daun-daun yang lunglai dimainkan angin dingin.
Awan di atas menggelung dan menggelap, sejak pagi hujan turun, siang ini masih
rintik dan basah. Sepertinya musim hujan yang datang sesukanya ini, menurunkan
hujanpun dengan sesukanya. Aima, gadis belasan akhir, tidak membenci hujan,
namun ia lebih suka jika hari cerah. Ia bisa melangkahkan sepatunya tanpa
khawatir bercak-bercak tanah mengotorinya. Ia bebas mengayunkan kaki tanpa
takut hujan memandikannya. Hanya itu.
Dan
karena hari hujan, maka sepanjang harian, ia hanya tersuruk dari satu titik ke
titik lainnya, di selasar kamarnya yang mungil. Raganya memang terpasung dalam
ruangan kotak tersebut, namun tidak dengan jiwanya, yang melompat dari satu
kenangan kepada kenangan yang lain, mengingat tiap incinya, lalu tersungginglah
seutas senyum manisnya.

